Bertumbuh Seperti pohon


 Jadi begini teman-teman, saat ini saya gabung jadi pendamping kelompok tani hutan di salah satu projek BPDAS Jeneberang Saddang kerjasama pemerintah German dan indonesia namanya Forest Program IV. Keren ya saya kedengarannya?

Waktu pertama kali orang-orang tau saya jadi pendamping kelompok tani hutan reaksi mereka langsung berubah, tatapannya jadi beda. Seolah-olah saya ini pahlawan lingkungan yang sedang berdiri di tengah hutan, terus hewan-hewan datang ngumpul, burung hinggap di bahu saya, dan saya teriak “Tenang… hutan ini aman bersamaku.”

Padahal kenyataannya… jangankan nyelametin hutan, nyelametin hidup sendiri saja kadang susah.

Awalnya Saya kira tugasnya simple cuma, ngajarin petani menanam, “Pak, tanamnya gini ya… jaraknya segini… pupuknya segini.”

Ternyata saya salah.

Jadi pendamping kelompok tani hutan itu bukan cuma jadi tukang tanam pohon. Kita ini paket lengkap. Kadang jadi tukang kebun, kadang jadi Pengawas, kadang jadi tempat curhat, dan kadang… jadi pendengar gosip paling update di desa.

Serius.

Awalnya mereka curhat soal tanaman.
“Pak, ini bibit kenapa layu yah?”

Lima menit kemudian berubah jadi,
“Pak tau tidak, itu si anu ternyata nikah diam-diam.”

Saya yang awalnya datang bawa semangat menjaga hutan, pulangnya malah bawa update kehidupan warga satu kampung.

Tapi yang paling bikin saya sadar diri adalah satu fakta pahit ternyata petani itu lebih jago dari saya. Saya baru baca teori, mereka sudah praktik puluhan tahun.
Saya baru ngomong, “Pak, sebaiknya jaraknya…”
Mereka jawab, “Iya, Pak. Kalau tanahnya begini, lebih bagus segini.”

Saya cuma bisa,
“Oh iya Pak… iya Pak… saya catat.”

Dalam hati:
“Lho… ini saya yang mendampingi atau saya yang didampingi?”

 Sejak saat itu saya sadar, kadang saya ini bukan pendamping. Saya ini murid yang pura-pura jadi pendamping.

Belum lagi kalau diajak ke lokasi petani biasanya bilang “Dekat kok, pak. Cuma sedikit jalan.”

Kalimat “sedikit jalan” versi petani itu beda sama versi manusia normal.

Lima menit pertama, saya masih kuat. Sepuluh menit, napas mulai berat. Lima belas menit, saya mulai mempertanyakan semua keputusan hidup saya. Sementara bapak-bapak itu? masih santai bahkan Sambil ngerokok dan ketawa.

 Di situ saya sadar, stamina saya kalah jauh sama bapak-bapak yang umurnya dua kali lipat dari saya. Sejak saat itu saya berhenti merasa muda.

Yang paling menarik itu kalau rapat kelompok. Kalau kalian kira rapatnya santai kalian salah besar. Mereka bisa debat satu jam cuma buat mutusin satu hal, pohon apa yang paling cocok ditanam.

Dan pembahasannya serius banget. Mereka bahas jenis tanah. Curah hujan, Umur pohon, Sampai dampak ekonominya. Ini seperti bukan rapat kelompok tani. Ini rapat direksi perusahaan. Bedanya cuma satu. Direksi perusahaan pakai sepatu pantofel. kelompok tani pakai sandal jepit.

Tapi dari semua itu, ada satu hal yang paling saya ingat.

Suatu hari, ada petani yang tanya ke saya,
“ Pak, hutan ini bisa balik lagi nggak? Dulu kan sempat dibakar di gunduli dan jadi kebun.”

Saya jawab pelan,
“Bisa pak, Asal kita jaga, dia pasti tumbuh lagi.”

Dan di situ saya sadar sesuatu, Bukan cuma hutan yang lagi tumbuh, Saya juga, Dulu saya pikir saya datang ke sini untuk mengajari mereka, Ternyata saya datang ke sini untuk belajar. Belajar tentang sabar, Belajar tentang kehidupan Dan yang paling penting Belajar tentang proses, pohon nggak pernah tumbuh dalam semalam, Dia tumbuh pelan Tapi pasti, Beda sama semangat saya, yang tumbuhnya pelan tapi cepat menyerah. namun kali ini saya belajar bertumbuh seperti pohon.

 

.

















































Posting Komentar

0 Komentar