Dia Terjatuh Sendiri

    Karena saya bukan customer service yang bisa menjawab pertanyaan yang sama seratus kali sehari, akhirnya saya memilih cara yang lebih hemat tenaga, menulis semuanya di sini. Jadi kalau kalian kepo, tidak perlu tanya lagi. tinggal baca saja, Kopinya yah siapkan sendiri.

spot mancing Rewata'a

 Sore itu langit di Rewata’a mulai berubah warna. Matahari tidak lagi panas, tapi juga belum sepenuhnya pergi. Ia menggantung di atas laut seperti seseorang yang belum rela pulang. Saya dan Sukri berdiri di pinggir jalan, tepat di atas tanggul yang sudah lama jadi tempat favorit para pemancing. Tempat itu terkenal gacor, kata orang-orang. Ikan sering makan tanpa pilih-pilih umpan.

    Di seberang kami, laut langsung terbuka tidak ada pasir hanya batu dan air yang dalam. Tanggulnya tinggi. Dari atas jalan mungkin hanya setinggi perut orang dewasa. Tapi dari bawah, dari permukaan laut, tingginya mungkin sekitar 6 meter. 



    Saya awalnya naik ke atas tanggul itu, berdiri di sana sambil memegang joran. Angin laut datang pelan-pelan, menyentuh wajah, lalu pergi lagi. Namun entah kenapa, saya merasa aneh mungkin efek kurang tidur. Tapi rasanya seperti ada sesuatu di bawah sana yang diam-diam menarik gravitasi, Seperti laut itu berbisik pelan, “Coba jatuh sedikit saja.” 

Saya langsung tidak nyaman, tanpa banyak drama, saya turun.


karena takut saya mancing di bawah, *ah kelihatan deh cemenku*

    Saya memilih memancing dari bawah saja, dari bagian yang lebih rendah. Lebih dekat ke jalan lebih  terasa aman. Sukri tetap di atas ia berdiri santai, memegang joran, seperti tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dalam hati saya sempat berpikir, Sukri ini pemberani juga Atau mungkin dia mau fungsikan BPJSnya

Kami memancing cukup lama, tapi ikan yang datang hanya kecil-kecil. Tidak cukup untuk dibanggakan. Tidak cukup juga untuk difoto lalu dipamerkan. Langit semakin gelap. Waktu Magrib sudah dekat. Kami sepakat berhenti.

Saya sudah lebih dulu turun. Sukri masih di atas, membereskan alat pancingnya lalu semuanya terjadi sangat cepat. Saat Sukri hendak turun, tiba-tiba tubuhnya kehilangan keseimbangan. Tidak ada aba-aba tidak ada kesempatan untuk memperbaiki posisi, tubuhnya jatuh ke belakang.

Gubrakkkkkk

Lalu suara yang lebih dalam. Bluk. Bluk. Bluk.

Semua mendadak hening, Beberapa detik yang terasa sangat panjang, lalu Sukri muncul di permukaan. tangannya mengepak tidak beraturan kepalanya naik turun.

Masalahnya sederhana, Saya tidak bisa berenang, kemampuan berenang saya mentok di gaya batu. walau sesaat saya sempat berfikir ingin melompat. Ingin menolong tapi pikiran lain datang lebih cepat. Jika saya melompat, mungkin akan ada dua orang yang tenggelam hari itu.

Saya hanya bisa berteriak. “Tolong! Dia tidak bisa berenang!”

Orang-orang mulai berkumpul, saya sempat merasa lega. Saya pikir bantuan akan datang ternyata yang datang lebih dulu adalah komentar.

“Itu temannya kenapa di dorong.”

Saya ingin marah. Tapi marah tidak akan membuat Sukri mengapung lebih lama. Di bawah sana, Sukri mulai melemah kepakan tangannya tidak lagi sekuat tadi, Kepalanya perlahan tenggelam lebih dalam. Di saat itulah seseorang melompat. tanpa banyak bicara, Tanpa banyak berpikir, Tubuhnya menghantam air dengan suara keras, Orang-orang menyebut namanya, Om Ical.

Ia berenang mendekati Sukri. Berusaha menopang tubuhnya dari bawah. Tapi laut tidak ramah. Di bawah sana ada tiram. Ada karang. Kaki Om Ical terluka. Ditambah tubuh Sukri yang berat, celana lepis dan jaketnya basah, membuat semuanya semakin sulit.

Saya berlari ke sana kemari mencari tali, Mencari kayu, Mencari apa saja yang bisa membantu, Saya menemukan belahan bambu. Tidak terlalu tebal. Tidak terlalu kuat. Tapi cukup panjang. Cukup untuk memberi harapan, meski hanya sedikit. Saat saya kembali, seseorang berkata,

“Mau diapakan itu? Pasti patah.”

bahkan ada yang lain berkata, “Tolol.”

Saya melihat mereka, mereka berdiri tegak, Sehat, mereka tidak panik.

Mereka hanya berdiri. Menonton. Beberapa bahkan sibuk memegang HP, merekam, mungkin untuk sesuatu yang mereka sebut konten.

Hari itu saya belajar sesuatu, Bahwa tidak semua orang yang hadir benar-benar peduli, Sebagian hanya ingin hadir untuk menjadi penonton. Untungnya, tidak semua orang seperti itu, Beberapa menit kemudian, seseorang datang membawa tali. Tali itu dilempar. Om Ical dan Sukri berpegangan. Orang-orang di atas menarik bersama-sama, Dan akhirnya, Sukri berhasil naik. Terengah-engah dan selamat

Saya duduk di situ, diam, masih gemetar, Masih mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Hari itu saya belajar sesuatu yang tidak diajarkan di sekolah. 

Bahwa keberanian bukan soal berdiri di tempat paling tinggi. Karena Sukri yang berdiri di atas tanggul, justru jatuh. Dan saya yang berdiri di bawah, justru selamat. saya yang penakut ini, turun lebih dulu karena firasat dan mungkin juga karena kurang nyali, justru selamat. Kadang, rasa takut bukan kelemahan. Kadang, rasa takut adalah cara tubuh kita menyelamatkan diri kita. 



Posting Komentar

0 Komentar