Sudah dua tahun saya di mamasa, tapi masih saja
merasa jadi orang asing, tidak ada satu pun orang yang saya temani ngobrol itu
tidak kaku kalau menggunakan bahasa indonesia, tapi kalau ngomong pake bahasa
daerah waow mereka cerewet sekali tapi saya gak mengerti dan hanya mengernyitkan
dahi saat mendengarnya. seperti kalau saya ke lokasi ketemu warga mereka cerewet
ngomong pake bahasa daerah yang saya tidak menegerti sama sekali, mungkin dia
sedang menceritakan suaminya, tetangganya atau mungkin juga lagi ngomongin saya, Saya cuma
angguk-angguk seperti orang yang paham.
Bahasa
mamasa itu hampir mirip bahasa toraja tapi kalo ngomong mirip orang ngerap,
cepat banget jadi bayangin saja eminem ngerap pake bahasa toraja begitulah kira
kira bahasa mamasa. Jadi kalo mereka ngomong serasa dengerin hiphop.
Budaya nya pun beda Ditambah mayoritas disini adalah
nasrani, jadi ketika saya bilang assalamualaikum mereka Cuma menganggukkan
kepala dan hening yang cukup panjang, begitu pun ketika mereka menghidangkan
makanan saya usahakan untuk menolak dengan cara halus seperti saya sudah
kenyang atau sedang puasa, ketika mereka bertanya kenapa ada puasa di hari
minggu ? saya juga bingung cara menjelaskannya seperti apa. Masa saya harus
menjelaskan fikih puasa sunnah di teras rumah orang nasrani jam sembilan pagi. Di
situ saya sadar, betapa jauhnya jarak yang bisa diciptakan oleh bahasa dan budaya.
Bukan tidak baik, Bukan karena tidak ramah, Tapi karena tidak nyambung.
Namun di suatu pagi yang cerah, saya lewat depan
rumah penduduk. Saya senyum, dan dia membalas dengan senyum. Saat itu saya baru
merasa nyambung. Senyum... Dibalas senyum. Nyambung! Seolah mereka tau apa
maksud saya senyum dan saya menjadi merasa bukan orang asing lagi di tempat
ini,
Mulai detik itu, saya jadi selalu senyum tiap
berpapasan warga di jalan. Sebelum dia senyum, saya senyum duluan, Kadang saya
terlihat seperti orang gila karena sering senyum sendiri di jalan, Tapi tidak
apa-apa Karena saya akhirnya mengerti sesuatu, Ternyata untuk diterima di suatu
tempat, kita tidak harus mengerti semua kata, Tidak harus fasih semua bahasa, Tidak
harus jadi bagian dari budaya itu sepenuhnya. Kadang, cukup menunjukkan satu
hal sederhana saja yaitu SENYUM
.jpeg)
0 Komentar