Marhaban ya Ramadhan.
Iya… saya tahu. Puasa sudah masuk hari ke-20, tapi baru sekarang saya menuliskannya di blog ini. Maaf ya. Beberapa minggu terakhir ini agak sibuk. Mungkin ada juga yang sempat membuka blog ini, berharap ada tulisan baru tapi yang muncul cuma tulisan lama *ge'er padahal tidak ada yg baca*
Ramadhan tahun ini entah kenapa membuat saya banyak mengingat Ramadhan zaman dulu.
Dulu, habis taraweh, halaman masjid tidak langsung sepi. Sandal-sandal berserakan di teras. Bocil-bocil berlarian keluar sambil tertawa. Ada yang langsung teriak, “Petak umpet mulai!”
Beberapa anak sudah sembunyi di balik pohon, nyelip di kandang ayam atau sembunyi di rumahnya sampe sahur, yang ini kampret sih. Ada juga yang main perang sarung, sarung digulung lalu diputar seperti cambuk fir'aun.
Orang dewasa cuma geleng-geleng kepala.
Sekarang? Habis taraweh jamaah keluar masjid pelan-pelan. Sebagian langsung pulang. Beberapa berdiri sebentar di halaman, lalu menunduk menatap layar HP.
Hal lain yang juga saya ingat, dulu setiap Ramadhan selalu ada lagu religi baru. Di televisi atau radio sering terdengar lagu-lagu religi yang membuat suasana Ramadhan terasa berbeda, Sekarang kadang lagu yang sama justru muncul dalam versi jedag-jedug. Saya juga tidak tahu harus tertawa atau bingung. Tapi dari semua hal yang berubah itu, ada satu hal yang justru paling membuat saya berpikir di Ramadhan tahun ini yaitu tentang diri saya sendiri.
Beberapa malam terakhir, saat berdiri untuk sholat, pikiran saya justru sering melayang ke mana-mana. Kadang ingat pekerjaan yang belum selesai, Kadang ingat urusan lain yang menunggu, kadang ingat mantan. Padahal dulu rasanya berbeda. Tapi dari semua perubahan itu, ada satu hal yang justru paling membuat saya berpikir di Ramadhan tahun ini. lagi-lagi tentang diri saya sendiri.
Di puasa yang sudah masuk hari ke 20 ini saya baru sadar… mungkin saya sudah terlalu jauh dari agama. Dulu saya pernah merasakan nikmatnya sholat. Rasanya ringan saja melangkah ke masjid. Tidak banyak alasan. Bahkan dulu saya pernah berdoa, kalau suatu saat sudah dapat pekerjaan, saya ingin lebih rajin sholat. Lebih rutin bersedekah. Nyatanya setelah dapat pekerjaan yang datang justru kesibukan, Target, Urusan dunia yang tidak ada habisnya. Tanpa terasa, perlahan-lahan saya malah semakin terlena. Mungkin memang begitulah manusia. Kadang baru sadar setelah merasa sudah berjalan terlalu jauh. Dan Ramadhan kali ini seperti menegur saya pelan. Mengingatkan bahwa masih ada hal yang lebih penting daripada sekadar sibuk mengejar urusan dunia. Seperti kata pepatah Arab:
Maka selama masih diberi kesempatan hidup, semoga kita juga masih diberi kesempatan untuk kembali. Untuk bertaubat Dan untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Semoga Ramadhan kali ini tidak lewat begitu saja

0 Komentar