Saya bersama beberapa anggota kelompok tani masuk ke dalam hutan untuk persiapan penanaman. Sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh. Dari kampung mungkin sekitar satu jam perjalanan. Cuma, kalau sudah membawa perlengkapan, bibit, logistik, dan segala macamnya ketika dipikul, satu jam itu terasa cukup panjang.
Di dalam hutan ada sebuah pondok milik seseorang. Kami sudah meminta izin untuk menginap semalam. Daripada hari ini pulang, besok masuk lagi, kemudian lusa pulang lagi, lebih baik sekalian menginap hemat waktu dan tenaga. Seharian kami bekerja menyiapkan lahan dan menanam. Menjelang malam, kami memasak, Setelah makan, suasana hutan kembali sepi signal hampir tidak ada apalagi untuk internetan. Jadi kegiatan malam itu hanya duduk sebentar, ngobrol seperlunya, lalu tidur.
Saya tidur cukup nyenyak. Sampai kira-kira tengah malam Gubuk bergoyang. Saya langsung terbangun. Saya diam, Goyangan itu berhenti. Lalu terdengar suara ribut dari luar. Saya melihat samping kanan kiri tidak ada siapa-siapa. Dalam hati saya mulai bertanya. lah kemana Ini orang-orang?
Suara ribut terdengar lagi, Pondok kembali bergoyang. Saat itu pikiran saya mulai ke mana-mana, Namanya juga tengah malam di dalam hutan. Imajinasi manusia kalau sudah takut memang suka aneh aneh. Saya meraba-raba di samping tempat tidur dan menemukan parang. Saya pegang erat untuk jaga-jaga.
Saya keluar Ternyata, Bukan hantu, bukan binatang buas, bukan juga perampok. tapi mereka yang baru pulang berburu. Bukan berburu rusa juga babi hutan. tapi mereka membawa katak 1 baskom penuh.
Saya cuma berdiri melihat mereka. Entah harus kagum atau khawatir. Mereka kemudian mulai membersihkan hasil buruannya. Setelah dicuci, katak itu direbus, lalu dicampur dengan beberapa macam daun saya sulit menjelaskan prosesnya bagaimana. Bentuknya tidak terlalu meyakinkan. Tapi saya memilih diam karena kadang-kadang makanan yang terlihat tidak meyakinkan justru paling enak atau paling tidak, begitu kata orang yang lapar.
Setelah masakannya jadi, mereka makan dan anehnya mereka terlihat sangat bahagia. Sumringah, Sampai rebutan saya mulai berpikir, mungkin memang enak atau mungkin karena mereka sudah sangat lapar. Belum lama mereka makan, salah seorang memanggil saya.
Barto: “Jangan makan semua, Bos juga mau.”
Saya langsung menoleh, ternyata saya juga kebagian.
Barens: “Iya, makan ini, Enak sekali Kayak daging unta kok.”
Saya terdiam, Daging unta? Saya melihat katak di baskom. Lalu melihat pak Barens, Kemudian melihat lagi kataknya. yang paling membuat saya penasaran bukan soal boleh atau tidaknya saya makan tapi satu pertanyaan sederhana "Dari mana dia tahu rasa daging unta?" Lihat unta saja mungkin cuma dari televisi apalagi makan dagingnya, Jangan-jangan dia pernah ke Timur Tengah dan saya saja yang tidak tahu.
Saya memilih cara paling aman untuk menolak saya keluarkan roti yang saya bawa.
“Tidak usah, saya bawa roti.”
Saya buka bungkusnya.
“Ini juga rasa daging unta.”
Mereka melihat roti saya, saya melihat mereka. Saya tidak tahu kenapa saya juga mengatakan daging unta. malam itu saya sadar bahwa kami semua sedang makan daging unta berdasarkan kepercayaan masing-masing.

0 Komentar