Yap kembali lagi di Cerita skripsi, kali ini dengan penuh pertimbangan dan kecemasan yang berlebihan saya gak bakal cerita mengenai bagaimana perjuanganku saat bimbingan, dicorat-coret dosen, revisi, ngejar-ngejar dosen, di-php-in dosen, di caci maki, pergi meneliti, terus dibantai saat ujian. Saya gak bakal cerita Karena takutnya itu akan menumbuhkan kesan menakut-nakuti dan menimbulkan kesan trauma kepada mahasiswa yang belum atau yang sedang menjalani skripsi, jadi saya langsung cerita aja ke bagian ujian tutup saya kemarin. *Padahal malas aja buat ngetiknya, *saya memang jago ngeles.

Saya termasuk orang yang beruntung saat ujian tutup karena ujianku dilakukan lewat online, alasannya karena pandemi masih bersemayam di tahun ini.
Mengetahui hal itu saya jadi gak terlalu takut mikirin ujian dan gak perlu lagi menyiksa otak mungil ku ini untuk terus belajar. Saya sedikit santai Setidaknya ujian online ini saya gak bertatap muka langsung dengan 3 dosen penguji dan 2 dosen pembimbing yang akan jadi penguji pas ujian tutup. saya merasa sedikit di untungkan.

Terus gimana nasibku saat ujian Tutup? Ternyata Semua di luar ekspektasi
Hari itu saya terlalu percaya diri bisa menjawab dengan cool semua pertanyaan karena gak bertatap muka secara langsung dengan hatersku dosen. Ternyata,, huft.

Ujian dimulai, penguji 3 hari itu gak bisa gabung dalam zoom karena ada sebab dan lain hal, saya merasa sedikit lega,
kemudian penguji 2 dipersilahkan untuk maju dan ternyata ia bukan tandinganku saya berhasil menangkis semua pertanyaannya, saya merasa sudah merdeka.
Oke lanjut ke penguji 1 ternyata gak seperti saudaranya, penguji 1 ku lebih kuat dan sangar, terbukti pertarungan waktu itu sangat menyita waktu dan tenaga, saya gak tau penguji 1 punya dendam apa sama saya yang jelasnya serangannya itu sudah memborbardir konsentrasi dan mentalku. demi apapun saat itu saya pengen kencing di celana. tapi saya berfikir ini baru permulaan. Saya harus tetap bertahan.

Kemudian lanjut lagi ke dosen pembimbing yang menjadi dosen penguji. Dospem 2 maju dengan tatapan mata yang tajam setajam Pedang prajurit Elbaf yang membuatnya sulit untuk di taklukkan. Ini sangat berbahaya, serangan dari dospem 2 ku ini sangat menyiksa, saya sulit untuk bisa menyerang balik. Keringatku tak hentinya bercucuran padahal 2 kipas angin di ruangan itu masih terus berputar. Saya hampir menyerah namun saya berhasil menang tipis *huft.

Lanjut ke dospem 1 ku ternyata ia dari tadi sudah menghimpun banyak tenaga dan sudah siap menyerang dengan membabi buta sedangkan saya hanya bisa pasrah karena mentalku sudah lemah dan fungsi otakku juga sudah menurun drastis, saya menyadari sebentar lagi saya bakal keok di hajar habis-habisan di pertempuran ini.

Alhamdulillah keajaiban pun datang, allah swt masih sayang pada saya, saya berhasil selamat hidup-hidup dari perang besar itu walaupun saat Selesai ujian saya langsung tergeletak tak sadarkan diri.
Hari itu Saya seperti menghadapi 4 panglima tempur sekaligus tenagaku habis terkuras. Dalam keadaan yang lemas Saya langsung teriak, AAAAAAAAAAH!! Enggak, saya enggak kesurupan kok tapi saya merasa gak puas saja dengan hasil ujian tadi.
Yah salah saya juga sih terlalu menganggap remeh ujian online yang membuat saya malas, gak serius untuk belajar dan hasilnya yah gitu deh. Menyesal? Yah enggak lah. Karena dari kejadian itu saya dapat pelajaran berharga. bahwa kita jangan pernah meremehkan sesuatu karena itu yang akan membuat kita menjadi lemah.

pesanku yang terakhir berhati-hatilah menghadapi pasukan pembantai dosen penguji, semoga kalian semua bisa selamat hidup-hidup.

Babay semua hihihi.